Pelangi Tak Berwarna

petikOrang bilang mimpi itu adalah bunga tidur,mimpi itu adalah saat kita berada di dunia abstrak dimana segalanya bisa terjadi, dan mimpi itu bisa akan berkaitan dengan hal yang terjadi di esok hari, lusa atau nanti, benarkah itu…?.
Entah apa yang telah terjadi dengan dirinya, dalam 3 malam berturut-turut aku terus dihantui mimpi-mimpi darinya. Kadang aku bermimpi sedang berjalan-jalan di disebuah taman yang indah bersamanya, terus aku berlari mengejarnya dengan segenap tenaga yang kumiliki, dirinya terasa sangat jauh dariku, dan yang terakhir mimpi ku semalam, aku melihat dirinya berpakaian rapi dengan potongan rambut yang tak biasanya ia sisir kebelakang. Aku merasa dia akan pergi jauh tinggalkan aku. Aku terjaga dalam keadaan sedih dan rindu akan sosok dirinya yang pernah mengisi hari-hariku yang sepi dulu.
Berat rasanya memencet tombol mungil kyped di handphone ku, sekedar mengirimkan sms “Hy…,apa kbr mas,gmn keadaannya?” atau apalah tapi tak ku lakukan. Karna aku bukan siapa-siapa lagi bagi dirinya dan lagi pula aku telah berjanji takkan mengganggu hidupnya lagi. Subuh itu aku masih terjaga dengan sejuta perasaan yang tak mementu. “Apa yang harus aku lakukan, Apakah dia baik-baik saja..?” perasaan ku bingung bercampur sedih. Baru kali ini aku merasa tak berdaya karna rasa rindu yang mencabik.
Keesokan harinya, seperti biasa aku memulai hariku seperti hari-hari kemarin. Menjadi salah satu Perawat disebuah rumah sakit daerah yang ada di kampung halamanku. Sibuk merawat pasien yang sedang mengandung buah cinta mereka tapi tak pernah merasa mengerti seperti apa rasa cinta itu. Terkadang bengong sendiri setelah menyelesaikan persalinan buah cinta mereka. Melihat bayi mungil di tanganku, aku merasa damai, inilah hasil dari buah cinta mereka, tapi bagaimana dengan diriku, mana hasil buah cintaku yang selama ini aku tabur…??. Aku merasa kosong, walaupun ada seseorang yang begitu mencintai aku tapi aku tak merasa nikmatnya cinta itu. apakah aku berdosa kepadanya. Ataukah ini karma yang sering disebut-sebut dirinya kepadaku. “Ahh…, aku tak perduli….!!!!”. Ini hanya masa transisi sebelum aku betul-betul mendapatkan apa yang aku inginkan. Setidaknya itulah ego yang selalu membutakan mata dan hatiku.
“Ada apa Tha…,sepertinya akhir-akhir ini kamu aneh gitu.., ada masalah..?” Rio bertanya kepadaku, sepertinya dia mencium sesuatu yang tak beres dengan diriku.
“Ga’ Mas…, ga ada apa-apa, cuma kecape’an aja…,” aku tersenyum memandangnya.
“Ya…udah kalo’ ga mau cerita, tapi ingat jangan pernah bohongi aku, oke…!!” Rio sedikit mengultimatum ku.
“Ya..mas ga’ ada apa-apa, aku tak pernah niat untuk bohongi kamu, aku cuma kecape’an ajah koq…” aku memegang tangannya dan menyakinkannya lagi.
Dalam aku memandangi matanya. Aku membaca keresahan dimatanya seperti keresahan mata seseorang yang pernah aku sakiti dulu. “Oh Tuhan apa yang telah aku lakukan. Tidak…, jangan lagi…!!!, jangan lagi aku menyakiti hati seseorang yang benar-benar mencintai aku dengan tulus. Aku akan merasa berdosa sekali jika ini terulang lagi, Tidak Tuhan, Jangan lagi kau beri aku cobaan seperti ini, Ku mohon Tuhan.., lindungilah aku dari pikiran-pikiran yang selalu menyesatkan aku..,ku mohon Tuhan…”. Batin ku memekik.
Diatas roda dua itu, tanganku memeluk Rio dengan erat.., aku tak mau kehilangannya,aku tak mau jauh darinya dan aku tak mau apa pun yan terjadi dengan dirinya. Semua perasaan yang dulu pernah ada untuk seseorang itu, malam ini aku tumpahkan kedalam dekapan Rio seseorang yang sudah cukup lama ku kenal. Aku memerima dirinya sebagai kekasih hatiku satu tahun yang lalu karna bagiku Rio adalah sosok yang sempurna di mataku. Perkejaan yang mantap, karir yang cemerlang, baik, jujur dan apa adanya. Sosok pria Dewasa yang begitu memikat hatiku. Ku kenal dirinya ketika saat itu aku dalam masa berkabung karna sakitnya patah hati. Dia datang secara tak kuduga, menawarkan obat penghilang rasa sakit itu. Dan memabukakn aku dengan sejuta rasa cintanya kepadaku. Aku di buatnya mabuk kepayang saat itu.
“Mas jangan tinggalin Etha ya…,janji..!!” aku membisikan itu dikupingnya diselah-selah angin yang menderu malam itu.
“Aku tak punya alasan untuk meninggalkanmu Cinta..,walaupun ada akan ku buang jauh-jauh dari pikiranku…,aku janji…,!!” Rio tersenyum menatap mataku dan mecium lembut bibirku. Aku membalas kecupannya dan kembali memeluk erat tubuhnya. Aku merasa terlindungi dalam dekapannya. Nyaman sekali saat itu. lambaian tanganku mengiringi Rio pergi bersama suara motornya setelah aku tepat berada di depan rumah ku malam itu.
****
Mataku tertuju akan sebuah sosok tubuh yang pernah aku kenal dulu. Diatas tebing yang tinggi dirinya berdiri menatap langit yang semakin jauh tertelan lautan. Aku dengan sekuat tenaga memekik memanggilnya tapi tak terdengar. Suaraku semakin marau, sampai-sampai menjadi bisu tapi dia tak mendengar sedikit pun teriakan dariku. Aku menangis terseduh-seduh, terisak tangis sampai lemas seluruh otot-otot yang membungkus tulangku ini. Aku hanya pasrah menyaksikannya berdiri di ujung sebuah tebing tinggi itu tanpa bisa meraihnya. Tiba-tiba sorot matanya yang tajam menghujam jantungku. Seakan berkata “Slamat Tinggal sayangku”, dan menatap mataku dengan lama di akhiri dengan tersenyum yang pernah membuat jantungku berhenti berdetak. Seakan menjadi seekor elang, dirinya menukik terjun bebas dari tebing itu menuju batu karang yang telah menunggunya dibawah sana.
“eega……!!!!!” Aku sesentak kaget dan terjaga dari mimpi itu spontan sambil memekikkan namanya. “Astafirlah halazim….” Aku terpaku di atas ranjangku dengan sisa-sisa keringat di tubuhku.
“Apa yang akan terjadi pada dirinya, pertanda apa ini Tuhan….” Aku mencoba bertanya kepada Sang Maha Tau.
****
“Tha…, ada yang nyari’in kamu tu..,di ruang tunggu pasien…, dia bilang teman semasa kuliah kamu dulu…” suara Desy mengagetkan aku ketika aku lagi ingin membalas sebuah pesan dari Rio.
“Siapa Bu…?” Aku sedikit panik dan menuju ruang tunggu tersebut.
“Mas Edwin…., kok bisa ada disini….?” Aku sedikit bingung.
“Dunia ini memang sempit tha…, aku cuma mampir, kebetulan aku ada tugas disini untuk beberapa hari…, gimana kabarmu….” Dengan ramah dia mengulurkan tangannya. Dan aku memerima uluran tangan tersebut.
“Sehat Mas…., Mas sendiri gimana…??, Di sini tinggal dimana…??” aku mempersilakan dia duduk.
“Sepertinya kamu tak berubah…., pembicaaran ini takkan menarik kalo’ hanya mencium bau obat yang berasal dari jarum suntik itu. gimana kalo’ hari ini kita makan siang bersama…?” sebuah ajakan yang sulit sekali aku tolak.
“Waduh gimana ya Mas…,(aku mencoba sedikit berfikir), Ya… sudah tunggu sebentar, aku melapor dulu untuk izin ke piket jaga” dia menggagukan kepala dengan yakinnya.
Pembicaraan yang seharusnya tak terhalang oleh waktu, tapi mau tak mau aku harus berkerja lagi, dan Mas Edwin pun dalam waktu kurang dari 3 jam lagi akan meninggalkan desa kelahiran ku ini. Dalam percakapan itu seolah kami berdua reuni bersama. Mengenang masa-masa indah kami sewaktu masih kuliah dulu. Memang mas Edwin tak satu almamater dengan ku, aku sendiri mengenalnya ketika ikut sebuah perkumpulan teater antar kampus yang ada di kota ini dulu dan beliau pun menjabat ketua dari perkumpulan itu. Aku beruntung sekali bisa mengenalnya. Ada banyak ilmu yang ku serap darinya.
Namun tiba-tiba membicaraan ini tak berujung baik, aku menangkap sesuatu dari pembicaan ini. Mas Edwin membicarakan seseorang yang selalu menghantui tidurku. Ega.
“Ega…., dari kabar yang ku dengar sedang mengalami syock yang hebat Tha..,beberapa bulan yang lalu aku mengujunginya…., aku benar-benar sedih melihatnya. Mati tidak hidup pun tidak..,duduk diatas kursi roda seperti mayat dengan tubuh kurus sambil memegang sebuah buku di tangan kiri dan pena di tangan kanannya. Semua ini salah ku. Mengapa aku harus menghianati persahabatan kami. Aku benar-benar merasa berdosa sekali dengan dirinya” Mas Edwin seakan tak sanggup membendung air matanya. Dia menggengam erat tanganku.
“Ya..,Mas Aku tau…., selama Ega sakit aku belum sempat jenguk dia kesana. Jujur aku takut sekali sama Ibunya. Aku masih belum siap untuk bertemu dengan Ibu sekarang, dan dalam beberapa hari kemarin Ega terus hadir dalam mimpiku…, Aku harus bagaimana Mas…, Etha bingung..” mataku mulai bereaksi dengan keluhan itu, semakin erat ku genggam balik tangan Mas Edwin. Aku tak mau tangisku pecah dihadapannya. “Ini semua salahku Mas” aku kembali melanjutkan.
“Ya.., Ini salah kita berdua, seharusnya kita tak melakukan hal bodoh tersebut kepadanya. Kita benar-benar bodoh Tha..” Mas Edwin memukul-mukul kepalanya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Tangis ku pecah saat itu juga.
“Kamu tau Tha.., hal yang membuat dada ini perih…., sewaktu aku mengunjunginya, Ibu Ega memberikan beberapa tulisan Ega kepadaku…., semuanya tentang kekelaman yang abadi, “Surga yang hitam”, “Pelangi tak berwana, Ketika Hujan Menari”, dan beberapa tulisannya yang mengambarkan kejamnya Cinta dan dunia. Aku benar-benar terpuruk ketika membacanya Tha…”. Kini aku dan Mas Edwin sama-sama terpuruk oleh kenangan masa lalu itu. Benar kata mas Edwin, seharusnya aku tak menghianati Cinta Ega dan menduakannya dengan Mas Edwin dulu. Tapi semuanya telah terjadi tinggallah rasa berdosa yang berkecambuk di dalam dada ini yang terus akan menghantui sampai aku tua nanti.
“Ada baiknya kamu jenguk dia, selagi ada waktu…., kamu masih ingat kata-kata Ega dulu. “Kita tak pernah bisa membaca hari esok lakukan sekarang jika mau berubah”. Ingat itu….” kata-kata dari Mas Edwin terus membayangi aku ketika jarum suntik itu hampir berlabuh di pantat seorang pasien. Aku merasa tak konsentrasi lagi. Dengan berat pihak rumah sakit memperbolehkan aku pulang lebih awal dengan alasan tak siap bekerja hari ini.
****
“Apa salah ku tha…., jawab…!!!, apa aku pernah menyakitimu?, pernah mengecewakanmu…, ayo jawab tha…jangan diam saja….!!!” Aku tak bisa menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Eg kepadaku. Amarahnya mulai memuncak, beberapa kali ia menggoncang-goncangkan tubuhku untuk mendapatkan jawaban itu dariku tapi tetap saja mulut ku diam terkunci.
“Kamu cinta dia kan…!!!” suara Ega semakin meninggi, aku hanya bisa menangis menyesali perbuatanku kepadanya. Lagi-lagi aku tak bisa bicara apa-apa. Ega pergi meninggalkan aku diruang kampus itu. pergi dengan memacu sepeda motornya sekencang mungkin. Baru tiga minggu kemudian aku menerima kabar dari temanku hawa Ega kecelakaan dengan jarum suntik di pergelangan tangannya.
Untuk beberapa bulan Ega terbaring koma dirumah sakit. Kedua kakinya patah dan harus di amputasi. Ega mengalami kerusakan otak permanen. Ega tak ingat siapa-siapa lagi. kecuali suara Ibunya.
Hari ini tepat satu tahun 8 bulan aku masih tak bisa menjenguknya karna merasa takut dengan Ibunya. Sebuah alasan yang tak mendasar, aku hanya melindungi ego ku dari ancaman itu. aku tak bisa bertemu Ege lagi. “Maafkan aku Ga….” Aku menangis di atas tempat tidurku. Aku merasa menjadi Monster yang amat sangat jahat saat itu. Ega laki-laki yang begitu mencintai aku dengan tanpa dosa aku hancurkan hidupnya. “Manusia seperti apa aku ini….” Aku menyesali perbuatanku dan kembali terisak tangis di kamar itu.
*****

Pelangi tak berwarna

Sore itu aku melihat sebuah pelangi
Kecil memeluk langit jinggamu
Warnanya hampir sama seperti bulan
Yang sebentar lagi akan datang
Aku tak mengerti
Mengapa Pelangi itu tak berwarna
Apakah ada yang salah dengan diriku…??
Harapanku musnah sudah..
Anganku juga sirna …
Kau berikan Pelangi Tak Berwarna
Yang hanya tinggal Spektrumnya saja.
Aku tak percaya kau lakukan ini kepadaku
Semua bagai mimpi…, hilang tenggelam
Saat pagi tiba…
Dan Aku masih disini
Masih terhanyut dalam bayang-bayangmu
Yang seakan erat memeluk hatiku….
Dimana air hujan yang pernah kau
Simpan untuk ku dulu …?
Pelangi tak berwarnamu tak bisa ku raih….

By. Ega

Saat kau membaca surat ini, berati aku telah menuju surga hitam ku. Aku tak menyalahkanmu tak akan pernah menyalakan siapa-siapa atas apa yang terjadi dalam hidupku. Tak perlu membuang air mata untuk orang yang tak berguna.
Semoga harimu berwarna seperti pelangi yang semestinya, bukan pelangi yang sering kali aku lihat di dalam mimpi.

seseorang yang tulus mencintaimu
Ega

Aku menutup surat itu dan mengangis kedalam pelukan Rio. Surat itu datang ketika aku berniat membesuknya besok. Sebuah rencana manusia yang sia-sia. Aku tak bisa berbuat banyak ,hanya bisa menangis di pelukan Rio yang saat itu ada disampingku. Rio sendiri hanya bisa mengatakan “Sabar” kepadaku.
Handphone Rio bergetar sebuah pesan singkat yang membuat aku lemas dan tak sadarkan diri.
“Mas…Lagi dimana…., Tar malam jadikan…? Aku tunggu di hotel tempat biasa kita bertemu. Salam cintaku untuk mu. Mzu. Ratna
****

The_End

29pril09

Published in: on Juni 20, 2009 at 1:31 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://penataplangit.wordpress.com/2009/06/20/pelangi-tak-berwarna/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: