“Filosofi Hitam”

Filosofi Hitam

Jauh sebelum zaman berkembang.., atau tepatnya pada tahun                558 SM, ada seorang filusuf dari Persia yang juga pernah belajar bersama seorang guru besar bernama Phytagoras, pernah mengemukaan pendapatnya.., bahwa “Hitam itu bukanlah warna melainkan Suasana”. Mengapa demikain..?

“Karna hitam itu adalah keadaan yang pekat.., buta dan tak berwarna, ketika hitam datang maka tak ada warna lain yang dapat mendekatinya kecuali  cahaya, dan cahaya yang dihasilkan  juga bukanlah hasil dari sebuah proses melainkan pencerminan kontras dari hitam itu sendiri. Jadi hitam itu bukanlah warna melainkan suasana.

“Zarathustra”

Wew.., maksudnya apa ya…?? Memang agak membingungkan.., tapi jika kita mau sedikit membuka diri saya yakin akan memahami makna yang terkandung di dalam gubahan tersebut.

Menurut Teori mungkin begini maksud beliau.., pejamkan lah mata mu selama satu menit.., lalu dibantu kedua tanganmu untuk menutupi rapat kedua mata mu.., apa yang kamu lihat..?

“Hitam..,gelap.., tapi lama-lama seperti ada cahaya yang dihasilkan  dari kontras hitam itu sendiri”. Masih tak percaya.., sekarang tanyakan saja kepada orang yang buta.., dan jawabannya pasti sama..Hitam itu bukanlah warna melainkan suasana..

Akan tetapi jika menurut seorang filusuf akan berbeda lagi,  “Keadaan dimana kita tak mengerti tentang sesuatu hal atau dengan kata lain hitam melambangkan sebuah kesalahan maka kesalahan yang membawa kita menuju kebenaran”. Wah.., makin membingungkan ya…? Oke.. deh… mungkin sebaiknya aku sederhankan saja semuanya.., agar kita bisa di memahaminya.., tapi kalo salah jangan marah ya…? Hahahahakkk…

Jadi begini.., yang dimaksud beliau akan sebuah kesalahan yang membawa kita menuju titik terang Yaitu “Takdir itu sendiri.., yang datang dengan perlahan-lahan menghampiri hidup kita.., karena pencerminan apa yang kita lakukan saat ini untuk masa depan”. Maka terbukti apa yang beliau katakan… “ketika hitam datang maka tak ada warna lain yang dapat mendekatinya kecuali  cahaya, dan cahaya yang dihasilkan  juga bukanlah hasil dari sebuah proses melainkan pencerminan kontras dari hitam itu sendiri. Jadi hitam itu bukanlah warna melainkan suasana.

Mungkin kurang lebih begitu teman. Salah dan benar semuanya Relatif…, untuk itu jika ada salah-salah kata.., saya mohon maaf…, Lho…!! Neh prosa atau surat untuk parsel Lebaran seh.., kok isinya maaf-maaf’an…. Hahahhaakkkk……!!

Jadi.., mulai sekarang jangan pernah lagi menyebut hitam itu warna.., sebab “Hitam itu bukanlah warna melainkan suasana”.

241209

Iwansteep

Published in: on Januari 24, 2010 at 9:55 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://penataplangit.wordpress.com/2010/01/24/filosofi-hitam/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: