Surat untuk Saudaraku Ari-Ari

Surat untuk Saudaraku Ari-Ari

Dear My Brother

Saudaraku, apa kabar mu disana..? akh, tentunya kabarmu baik bukan. Tak seperti aku di sini yang selalu buruk. Saudaraku Ari, maafkan jika kedatangan surat ku ini menggangu aktifitasmu. Hati ku sedang gundah, aku tak tau lagi harus bercerita kepada siapa kecuali kepada dirimu. Mohon dengarkan apa yang ku tulis ini.

Saudaraku Ari, ini adalah surat ku yang pertama yang bisa ku tuliskan kepadamu. Sebagai tanda aku ingin kau tau keadaan ku disini begitu suram. Terlebih sejak virus sialan itu menempel di tulang belakang ku 3 tahun yang lalu, yang menyebabkan aku tak bisa bergerak bebas seperti kita dulu pernah bersama di dalam rahim itu. Ya, itulah kini keadaan ku sekarang. Benar-benar sekarat saudaraku..!!. Mimpi-mimpi indah kita sewaktu disana semuanya kandas. Janji-janji yang pernah kita ucapkan dulu juga tak bisa membuat aku bangkit dari kesengsaraan ini. Aku menyerah saudaraku..!! benar-benar tak tau lagi apa yang harus aku lakukan.

Tapi jangan kau kira aku tak berusaha saudaraku. Segenap kekuatan dan kelemahanku sudah ku kerahkan semuanya. Namun selalu gagal dan gagal. Aku tak tau lagi apa maksud dari ini semua. Benarkah Tuhan itu ada saudaraku…?. Kalo benar, mengapa Dia tak pernah menjamah Doa ku..?. Apakah Dosaku terlampau besar Bagi-Nya hingga aku tak pernah lagi di anggap-Nya ada di muka bumi ini. Akhh, aku benar-benar gundah saudaraku. Sedih bercampur muak aku disini. Benar-benar ingin segera menyusulmu. Tapi aku takut jalan pintas yang aku lakukan malah tak bisa bertemu denganmu. Aku lelah saudaraku, bahkan sangat lelah..

Saudaraku Ari, melalui surat ini aku ingin kau lakukan sesuatu untuk ku. Untuk saudaramu yang sedang di rundung duka ini. Tolong kau laksanakan saudaraku..!!. Aku ingin kau bertemu Tuhan dan memohonlah untuk pengampunan semua dosa-dosa yang pernah aku lakukan dulu. Katakan kepada Tuhan saudaraku, aku masih ada di muka bumi ini, tolong lihat aku, tolong jamah doaku. Memohonlah itu kepada Tuhan saudaraku. Agar kelak nanti Dia bisa memberikan sedikit jalan terang untukku, agar aku bisa memerima dan melapangkan sedikit dada akan keadaan ku yang sekarang ini. Aku mohon saudaraku, lakukan itu untuk ku.

Saudaraku Ari, ada satu lagi kegelisahan hati yang tak bisa aku tutupi darimu. Seperti yang ku ceritakan dari awal, dengan keadaan ku yang sekarang ini aku tak bisa lagi mencari nafkah sendiri. Sudah aku coba sebisa ku tapi hasilnya gagal. Berapa kali aku coba, hasilnya sama saja. Dan akhirnya aku malah menjadi parasit bagi ibu ku, Ibu kita saudaraku..!!. Persis seperti sewaktu kita di dalam tubuhnya dulu. Sebenarnya Ibu kita tak mempermasalahkan keadaan itu. Tapi saudara-saudara kita yang lainnya seolah sinis kepadaku. Mereka persis menganggap aku ini seperti anjing yang wajib di beri makan 2 kali sehari agar nyalak ku diam. Aku benar-benar tak bisa terima itu saudaraku. Aku ingin marah dan meledak-ledak seperti gunung pada masa klimaks. Tapi apa daya aku tak bisa saudaraku, aku tak bisa lakukan itu karna memang pada kenyataannya aku persis seperti binatang yang mereka sebutkan itu. Muak aku saudaraku.., hina sekali hidup ku ini di mata mereka..!!.

Saudaraku Ari, hidup ku benar-benar malang tapi aku tak pernah menyesal. Aku masih bisa terima keadaan ini dengan mengurung diri di balik tembok imajinasiku. Sendiri..!! hanya aku dan rasa sakit itu. Tapi sampai kapan aku harus seperti ini tanpa ada kepastian dari Tuhan untuk segera memberikan Hikmah-Nya dari semua ini. Apakah sampai rasa sabar di hatiku ini habis..?. Akhh saudaraku, sepertinya aku tak bisa menunggu itu lebih lama lagi. Segeralah memohon pada-Nya untuk sedikit kebahagianan ku disini saudaraku.

Saudaraku Ari, hanya itu saja yang bisa aku kabar kan pada mu dari sini. Aku harap kau tak mengacuhkan surat dari ku ini. Oya saudaraku, Istriku titip salam padamu. Dia bilang ingin sekali bertemu denganmu. Kau belum tau kan jika aku sudah menikah.?. Ya saudaraku, istriku ini hanya sepasang tongkat yang selalu menemani aku mengais rerumputan di depan halaman rumah, setiap pagi, menemamiku melatih kedua kaki ku ini agar aku bisa berjalan lagi sebagaima mestinya dulu dan mengejar semua ketertinggalan ku. Doa kan aku semoga bisa sembuh dari penyakit ini saudaraku. Salam Cinta dan Sayangku kepadamu saudaraku..

Tertanda Saudara kembarmu,

Herwansyah bin Suwandi

****

Tidak untuk di publikasikan…!!

Jangan kau menangis ketika membacanya, karna cukup air mataku saja yang tumpah demi sepotong surat untuk Saudaraku ini.

10Agust2010

Dunia4x6meter

_Iwansteep_

Published in: on Agustus 10, 2010 at 6:39 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://penataplangit.wordpress.com/2010/08/10/surat-untuk-saudaraku-ari-ari/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: